Opini

Maksud Hati Membela Puan, Arteria Dahlan Malah Ketahuan Biografi nya

20
0

Jakarta, PB – Ada yang kelabakan saat manggung di Indonesia Lawyers Club (ILC) tadi malam (8/9/2020). Namanya Arteria Dahlan. Politisi PDI-Perjuangan yang datang ke panggung ILC dengan gagah berani untuk membela Puan Maharani yang dianggap telah mendeskreditkan Sumatra Barat (Sumbar).

loading...

Namun Arteria Dahlan malah ditelanjangi nasab keluarganya oleh wartawan senior, Hasril Chaniago. Kakeknya Arteria Dahlan yang bernama Bachtarudin, dikabarkan oleh Hasril Chaniago sebagai pendiri Partai Komunis Indonesia di Sumbar. Tentu malu, namun ibarat pepatah ‘terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian’, Arteria Dahlan tampak melakukan pertahanan diri (defense) dengan mengangguk-angguk. Seperti orang yang ‘ketahuan’, namun tidak tahu harus berbuat apa untuk membela nama baiknya. Mimik muka terkejut yang ditutupi dengan senyum kecilnya, juga tampak. Paling tidak, itulah pembacaan dosen psikologi politik amatiran seperti saya.

Sekarang, ada dua orang yang akan sibuk klarifikasi. Puan dan Arteria Dahlan! Puan menggunakan beberapa ‘anak buah’-nya untuk klarifikasi. Sedang Arteria Dahlan, menurut beberapa media online hari ini, sudah mengelurkan pernyataan bahwa kakeknya bukan PKI. Bahkan ia mempertimbangkan untuk melaporkan Hasril Chaniago ke Polisi dengan UU ITE. Saya tidak membahas, apakah keterangan Hasril Chaniago di ILC semalam itu benar atau tidak. Bagi saya tidak penting, Arteria Dahlan anak turun PKI atau bukan. Karena ideologi tidak diturunkan secara genetik. Bisa jadi, ada anak PKI tapi malah Pancasilais. Atau ada anak Kiyai yang ideologinya komunis. Tapi itu pendapat saya…. Bukan masyarakat pada umumnya lho, Pak Arteria Dahlan!

Masyarakat punya logikanya sendiri! Budaya menuntun mereka untuk melihat klarifikasi dan pembelaan yang berlebihan, justru sebagai bukti bahwa seseorang bersalah. Orang jawa misalnya, mereka punya filosofi “becik ketitik, olo ketoro”. Filsafat hidup tersebut menuntun orang jawa untuk diam jika difitnah. Atau kalau terpaksa harus membela diri, hanya sekedar ‘curhat’ kepada orang-orang terdekat dengan bahasa-bahasa simbolik. Bagi mereka, waktu yang akan memebuktikan siapa yang baik dan siapa yang buruk.

Baik-buruk akan dibuktikan dengan perilaku baik yang konsisten (sehingga memerlukan waktu untuk meyakinkan masyarakat), bukan kata-kata. Justru jika seseorang sibuk membela diri, maka pikiran budaya (cultural mind) orang akan mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut. Makanya, ada ungkapan, “kalau merasa benar, mengapa harus gusar”.

Tentu kita tidak bisa mengatakan bahwa cara berpikir masyarakat yang demikain ini benar. Namun, kita juga tidak bisa memaksa masyarakat memakai logika berpikir PDI-Perjuangan. Susah! Karena cara berpikir masyarakat ini juga logis. Orang yang memahami kebenaran, tentu tidak perlu gusar dengan fitnahan kepada dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kita sering mendapati bukti bahwa orang yang benar ternyata sangat tenang, dan orang yang bersalah biasanya malah banyak tingkah. Mbanyaki, kata orang jawa!

Isu-isu miring yang melekat pada PDI-Perjuangan, diri Pribadi Puan dan Arteria, menjadi hal yang menguatkan persepsi publik bahwa, ada kepantasan hubungan antara ketiganya dengan PKI.

Masyarakat akan menganggap, pantes aja PDI-Perjuangan jadi sarang PKI, kan ada yang sudah mengaku anak PKI di sana.

Pantes saja PDI-Perjuangan adalah PKI gaya baru, mereka kan yang sering menjegal RUU yang berbau syari’at. Atau, masyarakat akan semakin yakin bahwa kakek Arteria Dahlan adalah PKI, karena melihat kasarnya Arteria Dahlan ketika berdebat dengan Prof. Emil Salim di ILC. PKI sudah diceritakan dimana-mana sebagai kelompok yang kejam.

Maka jika Arteria dituduh cucu PKI, dan pernah mempertontonkan “kekejaman etik” nya kepada orang yang sepuh, logika budaya masyarakat akan dengan mudah menghubungkannya dengan kakeknya yang PKI.

Masyarakat akan berkata, ya pantes kalau kakeknya PKI. Sekali lagi, ini logika masyarakat! Benar dan salahnya fakta, saya tidak masuk ke ranah itu.

Sudahlah, menurut saya, lebih baik Puan dan Arteria Dahlan diam saja. Buktikan dengan kerja nyata, untuk membalikkan keadaan. Tunjukkan dengan kerja nyata, bahwa kalian mendukung syariat Islam.

Buktikan kalian anti China-Komunis dalam wujud Undang-undang. Stop kerjasama dengan Partai Komunis China.

Terus saja begitu, sampai masyarakat berkata, “ternyata PDI-Perjuangan pancen becik (baik)”. Jika nantinya malah sibuk membela, apalagi sampai mempolisikan pihak-pihak yang bersebrangan dengan kalian, maka akan semakin mengkonfirmasi tuduhan-tuduhan miring yang selama ini dialamatkan kepada kalian. Bahwa kalian PKI, anti-Islam, dan lain sebagainya. Bahasa lainnya, kalian akan semakin ‘ketahuan’ (olo ketoro) di mata masyarakat!

By. Aad Satria Permadi*, Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Univ. Muhammadiyah Surakarta (UMS).

loading...