Ekonomi

Penjualan Otomotif Hancur Lebur, Inikah Sinyal Krisis?

8
0

Jakarta, PB – Pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah wilayah memberikan dampak dahsyat pada penurunan tajam penjualan kendaraan baik mobil hingga 90% maupun sepeda motor 70% sepanjang April 2020.

loading...

Pandemi Covid-19 ini menyebabkan penjualan kendaraan mencapai penurunan terendah sepanjang sejarah. Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Yohannes Nangoi mengakui, pandemi Covid-19 menjadi pukulan luar biasa terhadap industri otomotif.

Gaikondo mencatat, penjualan mobil pada April 2020 turun 90,6% atau hanya terjual 7.871 unit saja dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya 84.056 unit. Jika dibandingkan penjualan Maret 2020, turun 89,7% dengan penjualan 76.811 unit.

“Kalau melihat hasil bulan April yang wholsesale-nya adalah luar biasa turun jadi kira-kira turunnya sekitar 90% dibanding kondisi normal, jadi cuma mencapai angka 8.000 saja tidak mencapai, dan ini merupakan suatu pukulan yang luar biasa,” kata Yohannes dalam acara MarkPlus Industry Roundtable, Jumat (15/5).

Ia memprediksi, situasi penurunan tajam masih akan terjadi sepanjang Mei, pasalnya banyak daerah yang menerapkan kebijakan PSBB.

“Dan menjelang Hari Suci Idul Fitri, sehingga kemungkinan besar penjualan mobil akan tetap menurun, akan lebih rendah dibanding bulan April,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi ini menjadi semakin berat mengingat kapasitas produksi mobil di Indonesia bisa mencapai 2,2 juta sampai 2,3 juta unit setiap tahunnya.

Bahkan, jika ditambah dengan pabrik baru dari Hyundai Motor Company yang ditargetkan beroperasi tahun depan, maka total kapasitas produksinya bisa mencapai 2,5 juta unit.

“Jadi bisa dibayangkan dengan 2,5 juta kapasitas produksi, sedangkan market di Indonesia mungkin tahun depan belum bisa pulih seperti normal,” ungkapnya.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumala mengakui, catatan penjualan mobil yang anjlok 90% sepanjang April menjadi yang rekor terburuk yang pernah terjadi di Tanah Air.

“Penurunan sampai sebesar itu belum pernah terjadi, jadi rekor terburuk,” katanya kepada CNBC Indonesia.

Ia mengatakan, kondisi serupa pernah terjadi pada krisis moneter 1998. Pada saat itu penjualan mobil setahun hanya 58 ribu unit, atau rata-rata 4.800 unit per bulan. Tentu, saat itu pada akhir 1990an penjualan mobil setahun belum sampai 1 juta unit per tahun seperti saat ini.

Lalu, dengan indikasi ini, sudahkah dapat kita menyebut sebagai pertanda krisis terjadi?

Pemerhati Otomotif, Munawar Chalil mencermati situasi penjualan mobil yang turun saat ini berbeda dengan kondisi krisis 1998, pasalnya saat ini masyarakat masih memiliki cukup uang. Hanya saja, mereka harus menunda membeli karena kebijakan pembatasan sosial. Ditambah lagi, depresiasi Rupiah tidak sedalam yang terjadi pada 22 silam.

“Ini kan beda dengan krisis 1998. Sekarang orang nggak beli mobil karena ada PSBB. Ngapain saya beli mobil kalau saya nggak boleh keluar rumah? Kalau dulu 1998 memang orang nggak punya duit akibat kurs rupiah yang nyungsep. Menurut saya sih saat ini masyarakat punya duit,” katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (15/5).

Namun, Munawar Chalil mengingatkan bila kondisi ini terus berlanjut berkepanjangan memang akan berbahaya. Apalagi banyak perusahaan berada dalam tekanan berat dan pendapatan masyarakat lama-lama tergerus apalagi banyak sudah terjadi PHK dan dirumahkan.

“Tapi kalau PSBB terus menerus lama-lama duitnya ya habis,” katanya.


Penjualan Sepeda Motor Anjlok 70%
Situasi yang juga kurang menggembirakan terjadi pada penjualan sepeda motor. Pandemi mengguncang penjualan sepeda motor pada April terkoreksi 70%.

Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI), Johannes Loman mengungkapkan, sebelum adanya wabah, AISI sempat mempekirakan penjualan selama 2020 akan mencapai 6,4 juta unit atau sama dengan capaian 2019. Namun, saat mewabahnya Covid-19, maka realisasi penjualan sepeda motor diperkirakan hanya akan mencapai separuhnya saja.

“Di Indonesia orang beli motor digunakan sebagai faktor produksi. Untuk usaha atau dipakai bekerja. Covid -19 telah menghambat banyak sektor usaha, otomatis penjualan motor juga ikut terdampak,” kata Loman melalui virtual meeting MarkPlus Industry Roundtable Automotive industry Perspective, Jumat (15/5).

Loman menyebut, Covid-19 telah berdampak terhadap 1,5 juta orang yang berkarya di sektor ini. Oleh karena itu ia berharap, pemerintah dapat memberikan relaksasi pada pihak pembiayaan.

“Bagi pengendara motor, Jika sudah melihat ekonomi tidak baik, mereka akan syok. 70 persen pengguna motor pembeliannya menggunakan kredit. Sekarang lembaga pembiayaan juga bermasalah, mereka selektif,” katanya.(cnb/red)

loading...