Ekonomi

Efek Sering Import Pangan, Akhirnya Puluhan Provinsi Defisit Stok Pangan

9
0

Jakarta, PB – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memaparkan stok sejumlah komoditas pangan domestik yang ternyata mengalami defisit di puluhan provinsi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.  Jokowi meminta jajaran menteri untuk terus memastikan ketersediaan stok.

loading...

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan lanjutan antisipasi kebutuhan bahan pokok melalui video conference di Istana Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/4/2020).

Adapun stok pangan yang mengalami defisit di puluhan provinsi antara lain beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, gula, telur ayam, sampai dengan stok gula.

“Pastikan distibusinya baik, sehingga daerah yang mengalami defisit kebutuhan pokoknya dapat di-supply dari daerah yang surplus,” kata Jokowi.

Jokowi lantas menekankan bahwa transportasi antar provinsi, antar pulau, maupun antar wilayah agar tidak terganggu kendati ada sejumlah daerah yang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Saya cek terus, karena dengan penerapan PSBB dari beberapa provinsi dan beberapa kabupaten kota memang ada satu dua yang terganggu terutama transportasi pesawat,” jelasnnya.

“Ini tolong betul-betul kita exercise agar jangan distribusi bahan pokok, bahan yang penting tidak terganggu karena sekali lagi kita negara kepulauan,” katanya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwasanya beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, gula, telur ayam, hingga gula rezim ini sering melakukan Import dari luar, dan tak heran, kenapa krisis pangan terjadi disebabkan banyak yang beralih profesi dengan sesuatu yang lebih bisa menghidupkan bagi para petani.

jauh sebelum corona datang, tak sedikit dari pantau kami beredar video video para petani membuang hasil panen mereka disebabkan jatuh nya harga produk yang mereka tanam sehingga dari sini lah penyebab banyak para petani yang beralih profesi den meninggalkan pekerjaan bercocok tanam / menjadi petani lantaran biaya hidup yang tak sepadan dengan hasil mereka.(red)

loading...